Studi Baru Ungkap Hubungan Antara Kepribadian dan Risiko Gangguan Otak  


Berita Lansia - Sebuah studi baru yang diterbitkan dalam jurnal Nature Mental Health mengungkap adanya kaitan menarik antara karakteristik kepribadian seseorang dan risiko mengalami gangguan otak. 

2025-01-10 15:08:21

Geriatri.id - Sebuah studi baru yang diterbitkan dalam jurnal Nature Mental Health mengungkap adanya kaitan menarik antara karakteristik kepribadian seseorang dan risiko mengalami gangguan otak. 

Penelitian ini merupakan kolaborasi internasional yang melibatkan berbagai lembaga terkemuka, termasuk Rumah Sakit Huashan Universitas Fudan di Shanghai, Universitas Oxford, dan Universitas Cambridge.  

Dengan menganalisis data dari lebih dari 298.000 partisipan UK Biobank - salah satu basis data biomedis terbesar di dunia - peneliti menyusun lima karakteristik kepribadian utama yaitu kehangatan, ketekunan, kegugupan, keramahan, dan keingintahuan. 

Studi ini mengeksplorasi bagaimana karakteristik memengaruhi risiko gangguan otak seperti Parkinson, stroke, dan skizofrenia.  

Kegugupan berisiko, kehangatan melindungi

Hasil penelitian menunjukkan, temuan yang konsisten. Sifat kegugupan berpotensi meningkatkan risiko gangguan otak. 

Baca Juga: 14 Sindrom Geriatri yang Sering Dikeluhkan Lansia

Sementara sifat seperti kehangatan, ketekunan, keramahan, dan keingintahuan memiliki efek perlindungan.  

"Kegugupan memiliki sifat merusak yang signifikan, sementara kehangatan, ketekunan, keramahan, dan keingintahuan secara konsisten menunjukkan sifat protektif terhadap berbagai gangguan otak," tulis laporan tersebut.  

Peran area otak dan proses biologis

Lebih lanjut, analisis menunjukkan, karakteristik kepribadian ini terkait dengan fungsi area otak tertentu, termasuk korteks frontal, korteks temporal, dan talamus. 

Selain itu, mekanisme biologis seperti peradangan dan metabolisme lipid ikut berperan dalam menjelaskan hubungan ini.  

Menurut Cheng Wei, penulis utama dari Universitas Fudan, temuan ini membuka pintu bagi pendekatan baru dalam neuropsikologi. 

“Studi ini menyediakan dasar untuk intervensi yang berorientasi pada kepribadian dalam menjaga kesehatan otak,” ujarnya.  

Implikasi untuk kesehatan otak


Penelitian ini menyoroti potensi besar untuk mengembangkan strategi pencegahan yang lebih personal. 

Dengan memahami bagaimana kepribadian memengaruhi risiko gangguan otak, dapat dirancang intervensi untuk memperkuat sifat protektif dan mengurangi dampak sifat berisiko.  

Baca Juga: Tanya Jawab Masalah Kesehatan Jantung

Studi ini bukan hanya memperluas wawasan tentang hubungan antara kepribadian dan kesehatan otak, tetapi juga memberikan arah baru bagi pengembangan terapi berbasis kepribadian untuk gangguan neurologis di masa depan.  

Dalam konteks kesehatan mental dan neurologi, temuan ini menegaskan pentingnya tidak hanya merawat otak dari sudut pandang biologis, tetapi juga dari sisi psikologis dan kepribadian seseorang.***

*Ilustrasi - Hubungan antara kepribadian dan risiko gangguan otak.(Pixabay)

Video Senior Podcast


ARTIKEL LAINNYA

Geriatri-ID Gelar Pelatihan Caregiver lagi, Kali ini di Panti Jompo

Buah dengan Gula Tinggi untuk Lansia: Konsumsi yang Bijak

Pelatihan Singkat Geriatri untuk Tenaga Medis Non-Spesialis

“Pada 2025, jumlah lansia diperkirakan mencapai sekitar 33,9 juta jiwa, setara lebih dari 11,8–12 % dari total populasi, menempatkan Indonesia secara resmi dalam era populasi menua.”

Geriatri-ID

Geriatri-ID adalah wahana digital yang menyajikan informasi dan edukasi terpercaya mengenai gaya hidup senior, 50 hingga 100 tahun.

HUBUNGI KAMI :

Email : geriatri.co.id@gmail.com
Whatsapp : +628111379101
DM Instagram : id_geriatri

Logo Geriatri Monochrome

Dikelola oleh PT Seratus Satu Media - Produksi 2026