Peringkat Tertinggi Penyebab Kematian, Jantung Koroner Didominasi Masyarakat Kota


Berita Lansia - Penyakit kardiovaskuler seperti jantung, kanker, stroke, gagal ginjal tiap tahun terus meningkat dan menempati peringkat tertinggi penyebab kematian di Indonesia terutama pada usia produktif.

2021-12-25 22:06:56

Geriatri.id - Penyakit kardiovaskuler seperti jantung, kanker, stroke, gagal ginjal tiap tahun terus meningkat dan menempati peringkat tertinggi penyebab kematian di Indonesia terutama pada usia produktif.

Data Riskesdas menunjukkan prevalensi penyakit Kardiovaskular seperti hipertensi meningkat dari 25,8% (2013) menjadi 34,1% (2018), stroke 12,1 per mil (2013) menjadi 10,9 per mil (2018), penyakit jantung koroner tetap 1,5% (2013-2018), penyakit gagal ginjal kronis, dari 0,2% (2013) menjadi 0,38% (2018).

Data Riskesdas 2018 juga melaporkan Prevalensi Penyakit Jantung berdasarkan diagnosis dokter di Indonesia mencapai 1,5%, dengan prevalensi tertinggi terdapat di Provinsi Kalimantan Utara 2,2%, DIY 2%, Gorontalo 2%.

Selain ketiga provinsi itu, terdapat delapan provinsi lainnya dengan prevalensi lebih tinggi jika dibandingkan prevalensi nasional.

Delapan provinsi itu adalah Aceh (1,6%), Sumatera Barat (1,6%), DKI Jakarta (1,9%), Jawa Barat (1,6%), Jawa Tengah (1,6%), Kalimantan Timur (1,9%), Sulawesi Utara (1,8%) dan Sulawesi Tengah (1,9%).

"Jika dilihat dari tempat tinggal, penduduk perkotaan lebih banyak menderita Penyakit Jantung dengan prevalensi 1,6% dibandingkan penduduk perdesaan yang hanya 1,3%," ujar Dirjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Maxi Rein Rondonuwu.

Anggota PERKI Isman Firdaus mengungkapkan tingginya prevalensi penyakit jantung koroner di Indonesia disebabkan perubahan gaya hidup tidak sehat seperti merokok dan pola makan tidak seimbang.

"Gaya hidup, merokok dan pola makan merupakan kontributor utama terjadinya penyakit jantung koroner (PJK), dilaporkan 50% penderita PJK berpotensi mengalami henti jantung mendadak atau sudden cardiac death," dikutip dari laman Kemenkes.


Di masa pandemi sekarang ini, orang dengan komorbid terutama penyakit kardiovaskular memiliki risiko sangat tinggi jika terpapar COVID-19 karena dikhawatirkan dapat menyebabkan perburukan bahkan kematian.

Hal ini terlihat dari data tingkat perawatan di RS dan angka kematian pasien COVID-19 dengan komorbid meningkat selama pandemi.

"Laporan RS dimasa pandemi menunjukkan 16,3% pasien yang dirawat dari ruang isolasi COVID-19 ternyata mempunyai komorbid. Namun pada situasi COVID-19, angka kematian meningkat 22-23%. Ini salah satunya terjadi karena paparan COVID-19 yang menyebabkan perburukan dari jantung kita," katanya.

Isman mendorong agar upaya promotif preventif terus dilakukan masyarakat untuk menghindari timbulnya masalah kesehatan penyakit kardiovaskular terutama penyakit jantung koroner. 

Selain membudayakan pola hidup sehat, ditekankan agar masyarakat juga aktif menerapkan protokol kesehatan dan segera mengikuti vaksinasi COVID-19 untuk memberikan perlindungan yang optimal dari paparan COVID-19

"Kami dari PERKI meminta kepada seluruh masyarakat terutama yang memiliki penyakit jantung untuk menjaga protokol kesehatan ketat dan melakukan vaksinasi untuk mengurangi perburukan bahkan angka kematian,'' harapnya.

Maxi menambahkan, Kementerian Kesehatan bersama stakeholder terkait terus malakukan upaya pencegahan kasus baru dan pengendalian penyakit dengan tujuan mendorong masyarakat untuk mengubah perilaku jadi lebih sehat melalui GERMAS serta berupaya mengontrol tingkat keparahan penyakit jantung.


Sementara di masa pandemi, Kemenkes mendorong daerah untuk menggencarkan vaksinasi bagi kelompok rentan yakni orang dengan penyakit komorbid dan lansia untuk mengurangi tingkat keparahan bahkan kematian akibat infeksi COVID-19.

Melalui prioritas percepatan ini, diharapkan dapat meningkatkan angka kesembuhan serta menekan angka kematian akibat COVID-19 terutama pada pasien lansia maupun komorbid yang menjalani perawatan di RS.

Data Riskesdas menunjukkan prevalensi penyakit Kardiovaskular seperti hipertensi meningkat dari 25,8% (2013) menjadi 34,1% (2018), stroke 12,1 per mil (2013) menjadi 10,9 per mil (2018), penyakit jantung koroner tetap 1,5% (2013-2018), penyakit gagal ginjal kronis, dari 0,2% (2013) menjadi 0,38% (2018).

Data Riskesdas 2018 juga melaporkan Prevalensi Penyakit Jantung berdasarkan diagnosis dokter di Indonesia mencapai 1,5%, dengan prevalensi tertinggi terdapat di Provinsi Kalimantan Utara 2,2%, DIY 2%, Gorontalo 2%.

Selain ketiga provinsi itu, terdapat delapan provinsi lainnya dengan prevalensi lebih tinggi jika dibandingkan prevalensi nasional.

Delapan provinsi itu adalah Aceh (1,6%), Sumatera Barat (1,6%), DKI Jakarta (1,9%), Jawa Barat (1,6%), Jawa Tengah (1,6%), Kalimantan Timur (1,9%), Sulawesi Utara (1,8%) dan Sulawesi Tengah (1,9%).

"Jika dilihat dari tempat tinggal, penduduk perkotaan lebih banyak menderita Penyakit Jantung dengan prevalensi 1,6% dibandingkan penduduk perdesaan yang hanya 1,3%," ujar Plt Dirjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Maxi Rein Rondonuwu.


Anggota PERKI Isman Firdaus mengungkapkan tingginya prevalensi penyakit jantung koroner di Indonesia disebabkan perubahan gaya hidup tidak sehat seperti merokok dan pola makan tidak seimbang.

"Gaya hidup, merokok dan pola makan merupakan kontributor utama terjadinya penyakit jantung koroner (PJK), dilaporkan 50% penderita PJK berpotensi mengalami henti jantung mendadak atau sudden cardiac death," terangnya.

Di masa pandemi sekarang ini, orang dengan komorbid terutama penyakit kardiovaskular memiliki risiko sangat tinggi jika terpapar COVID-19 karena dikhawatirkan dapat menyebabkan perburukan bahkan kematian.

Hal ini terlihat dari data tingkat perawatan di RS dan angka kematian pasien COVID-19 dengan komorbid meningkat selama pandemi.

"Laporan RS dimasa pandemi menunjukkan 16,3% pasien yang dirawat dari ruang isolasi COVID-19 ternyata mempunyai komorbid.

Namun pada situasi COVID-19, angka kematian meningkat 22-23%. Ini salah satunya terjadi karena paparan COVID-19 yang menyebabkan perburukan dari jantung kita," katanya.

Isman mendorong agar upaya promotif preventif terus dilakukan masyarakat untuk menghindari timbulnya masalah kesehatan penyakit kardiovaskular terutama penyakit jantung koroner. 

Selain membudayakan pola hidup sehat, ditekankan agar masyarakat juga aktif menerapkan protokol kesehatan dan segera mengikuti vaksinasi COVID-19 untuk memberikan perlindungan yang optimal dari paparan COVID-19

"Kami dari PERKI meminta kepada seluruh masyarakat terutama yang memiliki penyakit jantung untuk menjaga protokol kesehatan ketat dan melakukan vaksinasi untuk mengurangi perburukan bahkan angka kematian,'' harapnya.


Maxi menambahkan, Kementerian Kesehatan bersama stakeholder terkait terus malakukan upaya pencegahan kasus baru dan pengendalian penyakit dengan tujuan mendorong masyarakat untuk mengubah perilaku jadi lebih sehat melalui GERMAS serta berupaya mengontrol tingkat keparahan penyakit jantung.

Sementara di masa pandemi, Kemenkes mendorong daerah untuk menggencarkan vaksinasi bagi kelompok rentan yakni orang dengan penyakit komorbid dan lansia untuk mengurangi tingkat keparahan bahkan kematian akibat infeksi COVID-19.

Melalui prioritas percepatan ini, diharapkan dapat meningkatkan angka kesembuhan serta menekan angka kematian akibat COVID-19 terutama pada pasien lansia maupun komorbid yang menjalani perawatan di RS.(asp)***

Ilustrasi: Penderita Penyakit jantung.(Pixabay)

Video Lansia:

 

lansia,lansia sehat,lansia bahagia,lansia online,geriatri,merawat lansia,berita lansia

ARTIKEL LAINNYA

Renta Itu Apa? Ketika “Sudah Tua” Bukan Lagi Penjelasan yang Cukup

Singapura Putar Otak Wujudkan Negara Ramah Lansia

Mengapa Nafsu Makan Lansia Sering Menurun?

“Pada 2025, jumlah lansia diperkirakan mencapai sekitar 33,9 juta jiwa, setara lebih dari 11,8–12 % dari total populasi, menempatkan Indonesia secara resmi dalam era populasi menua.”

Geriatri.ID

Geriatri-ID adalah wahana digital yang menyajikan informasi dan edukasi terpercaya mengenai gaya hidup senior, 50 hingga 100 tahun.

HUBUNGI KAMI :

Email : geriatri.co.id@gmail.com
Whatsapp : +628111379101
DM Instagram : id_geriatri

Logo Geriatri Monochrome

Dikelola oleh PT Seratus Satu Media - Produksi 2026